Modul Ajar · Perencanaan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah

Perencanaan Teknis & Tata Letak: menempatkan sampah di dalam tapak

sel harian L × h × M liner: lempung + geomembran drainase lindi ke IPL muka kerja m:1 L
Gbr. 4.0 — Sel harian baji (L×h×M) di atas pelapis berlapis; drainase memisahkan air bersih dari lindi sejak hari pertama.
1,58m tebal optimum sel (contoh 56,7 ton/hari)
10⁻⁷cm/detik k lapisan komposit (EPA)
1,5FK minimum statik (SNI 8460)

Tujuan pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, kamu akan mampu…

    Kata kunci

    Kata kunci Bab 4

    4.1 · Metode penimbunan

    Memilih metode penimbunan sesuai kondisi tapak

    Topografi, kedalaman muka air tanah, dan ketersediaan tanah penutup menjadi dasar penentuan letak lapisan dasar serta urutan pengembangan zona.

    Rujukan utama Bab 4: Permen PU Nomor 03/PRT/M/2013. Pasal 33 membedakan lahan urug terkendali, yaitu pemadatan dengan penutupan paling lama setiap tujuh hari, dan sanitary landfill, yaitu sistem yang disiapkan serta dioperasikan secara sistematis dengan penutupan harian. Pasal 35–36 juga memuat kriteria lokasi, antara lain umur layanan minimal 10 tahun, jarak dari permukiman lebih dari 1 km, dan larangan pada kawasan lindung, daerah banjir periode ulang 25 tahun, serta lereng tidak stabil.

    Bab 2 digunakan untuk menetapkan lokasi, sedangkan Bab 3 untuk menetapkan kapasitas. Bab ini membahas cara menempatkan sampah di dalam tapak. Data topografi, kedalaman muka air tanah, dan ketersediaan tanah galian yang diperoleh pada Subbab 2.5 menjadi dasar keputusan tersebut.

    Tiga metode utama

    Metode area

    Metode area (area fill) menempatkan timbunan di atas permukaan tanah asli dan menahannya dengan tanggul. Metode ini sesuai untuk muka air tanah atau batuan keras yang dangkal. Lapisan dasar dibangun di permukaan, sedangkan tanah penutup umumnya perlu didatangkan dari luar tapak. Keuntungannya, sistem pengumpulan lindi dapat ditempatkan di atas akuifer.

    Metode parit

    Metode parit (trench fill) menempatkan sampah di dalam parit galian. Tanah hasil galian dapat langsung dimanfaatkan sebagai tanah penutup. Metode ini mensyaratkan muka air tanah yang cukup dalam; jarak vertikal antara dasar timbunan dan muka air tanah sedikitnya 3 m. Kedalaman parit tetap dibatasi oleh jarak aman tersebut dan stabilitas dinding galian.

    Metode lereng/cekungan

    Metode lereng atau cekungan (ramp, canyon, atau quarry fill) memanfaatkan jurang, lembah, atau bekas tambang. Kapasitasnya dapat besar tanpa galian yang luas, tetapi pengendalian air menjadi sangat penting. Karena cekungan berada pada bagian rendah daerah aliran sungai, limpasan harus dialihkan agar tidak menjadi lindi. Kondisi geologi bekas tambang perlu diselidiki dengan cermat sebelum lapisan dasar dipasang.

    Pada beberapa tapak, operasi dapat dimulai dengan metode parit hingga mencapai batas aman muka air tanah, kemudian beralih ke metode area. Surplus tanah dari tahap awal perlu disimpan untuk memenuhi kebutuhan tanah penutup pada tahap berikutnya.

    Tabel 4.1 — Matriks pemilihan metode terhadap kondisi tapak

    Kondisi tapakAreaParitLereng/cekungan
    Medan datar, MAT dangkalSesuaiTidak sesuaiTidak sesuai
    Medan datar, MAT dalam, tanah tebalDapat dipakaiPaling sesuaiTidak sesuai
    Cekungan/lembah alamiTahap lanjutTahap awalPaling sesuai
    Bekas galian/kuariDapat dipakaiTidak perluSesuai*
    Tanah penutup terbatasKurang sesuaiPaling sesuaiSesuai
    Daerah tangkapan besarSesuaiSesuaiPerlu pengelak besar

    * dengan kehati-hatian geologi — struktur terganggu, jalur rembesan sulit diperkirakan.

    Gbr. 4.1 — (a) Area: timbunan di atas MAT, penutup didatangkan. (b) Parit: galian ≥3 m di atas MAT, tanah galian jadi penutup. (c) Cekungan: isi lembah, wajib saluran pengelak di puncak.

    4.2 · Sel, lift & lereng

    Merancang sel harian secara efisien

    Sel harian berbentuk baji. Ketebalannya perlu dipilih dengan cermat karena sel yang terlalu tipis atau terlalu tebal sama-sama meningkatkan kebutuhan tanah penutup.

    Anatomi sel harian

    Sel harian adalah volume sampah yang dipadatkan dan ditutup pada hari operasi yang sama. Dimensi utamanya meliputi panjang muka kerja, L (3,0–4,5 m per kendaraan), tebal lapisan, h (2,4–6,1 m pada TPA besar), dan maju harian, M. Nilai M diperoleh dari perhitungan, bukan dipilih secara terpisah.

    Perhitungan dimensi & konsumsi tanah

    Vd = Wd / ρc

    Keterangan: Vd = volume sampah terpadatkan per hari (m³/hari); Wd = beban harian (kg/hari); ρc = densitas terpadatkan (kg/m³) — minimum Permen PU 600 kg/m³, literatur optimum 700 kg/m³ dengan 5–6 lintasan.

    M = Vd / (L×h)

    Keterangan: M = maju harian (m/hari); L = panjang muka kerja (m); h = tebal lapisan terpadatkan (m).

    Ac = L×M + L×h√(1+m²)

    Keterangan: Ac = luas yang ditutup tanah per hari (m²) — atap + lereng depan; m = gradien lereng kerja (mendatar/tegak, mis. 3 untuk 1:3).

    Sel yang tipis memerlukan maju harian lebih besar sehingga luas permukaan atas bertambah. Sebaliknya, sel yang terlalu tebal memperbesar luas lereng depan. Dengan mensubstitusikan Persamaan (4.2) ke Persamaan (4.3) dan menurunkannya terhadap h, diperoleh tebal optimum berikut.

    hopt = √[Vd / (L√(1+m²))]

    Keterangan: hopt = tebal optimum; pada titik ini luas atap = luas lereng — cek cepat kebenaran hitungan. Literatur (Milke 1997; Panagiotakopoulos & Dokas 2001) menegaskan L & h paling berpengaruh pada rasio S/R.

    Geometri lereng & terasering

    Lereng kerja umumnya direncanakan 1:3 sampai 1:4 agar pemadatan dan pergerakan truk berlangsung aman. Lereng luar sementara memerlukan perhatian khusus karena paling rentan terhadap ketidakstabilan. Lereng akhir tidak boleh melebihi 30°. Untuk timbunan lebih dari 5 m, Permen PU mensyaratkan teras selebar minimal 5 m pada setiap kenaikan 5 m. Teras memutus aliran permukaan, mengurangi erosi, serta menyediakan jalur drainase dan akses inspeksi.

    Tabel 4.2 — Parameter geometri sel & lereng

    ParameterNilai acuanSumber
    Panjang per kendaraan3,0–4,5 mInternasional
    Tebal lift2,4–6,1 mInternasional
    Tanah harian≈15 cm40 CFR §258.21
    Lereng kerjaMaks 1:3 — 1:4 sebagai footnote¹PermenPU Lamp III maks 1:3
    Lereng puncak akhir2–4 %Lampiran III — cegah genangan/erosi
    Lereng sisi berkontur20–30°Lampiran III
    Lereng maks30°Permen PU 48(2)
    Terasering5 m / 5 mLampiran III
    Kemiringan dasar1–2%SNI 03-3241

    ¹ 1:4 sebagai praktik konservatif internasional — Modul menampilkan sebagai footnote agar tetap 100% PermenPU (maks 1:3).

    Gbr. 4.2 — Sel baji (L,h,M) → lapisan → zona dengan terasering 5 m/5 m dan lereng akhir 1:3; urutan dimulai dari titik terjauh & terendah dekat kolam lindi.

    4.3 · Pelapis dasar

    Sistem pelapis dasar sebagai perlindungan berlapis

    Geomembran membatasi aliran, lempung memperlambat rembesan yang melewati cacat, dan drainase menjaga tekanan lindi tetap rendah.

    Sistem pelapis dasar disusun dari bawah ke atas sebagai berikut: tanah dasar (subgrade), penghalang geologis alami, lempung terpadatkan, geomembran HDPE, geotekstil pelindung, lalu lapisan pengumpul lindi beserta pipa. Susunan ini menerapkan prinsip pertahanan berganda: kegagalan pada satu lapisan tidak langsung menyebabkan pencemaran.

    Tabel 4.3 — Pembandingan persyaratan pelapis

    AspekIndonesiaAS (40 CFR 258.40)EU (1999/31/EC)
    SusunanLempung atau geomembranKomposit: geomembran di atas lempungGeologis+pelapis+drainase
    Tanah2×30 cm=60 cm≥0,61 m≥1 m
    k<10⁻⁶ cm/detik≤10⁻⁷≤10⁻⁷
    Geomembran1,5–2 mm (alternatif)≥30 mil; HDPE ≥60 mil (1,5 mm)≥0,5 m bila alami kurang
    Drainase / pipaKerikil 100 mm (SNI lahan urug terkendali) / Pipa ±300 mm gravitasi (Lamp III)—≥0,5 m
    hl maks—<30 cm—

    Diameter pipa dipilih berdasarkan debit lindi rencana. Asumsi bahwa sekitar 30% hujan menjadi lindi hanya digunakan sebagai asumsi desain awal; pembahasannya dilanjutkan pada Subbab 4.4.

    Sebagai konversi, 30 mil setara dengan 0,76 mm dan 60 mil setara dengan 1,52 mm. Perbedaan satu orde pada konduktivitas hidraulik, serta pilihan antara pelapis tunggal dan komposit, sangat memengaruhi perlindungan. Ketentuan minimum perlu diperlakukan sebagai batas bawah, bukan sebagai sasaran akhir desain.

    Taksiran rembesan

    q = k·i = k·(hl+D)/D

    Keterangan: q adalah fluks rembesan per satuan luas (m/detik); k adalah konduktivitas hidraulik pelapis (m/detik); i adalah gradien hidraulik; hl adalah tinggi genangan lindi di atas pelapis (m); dan D adalah tebal pelapis (m). Pelapis komposit dapat mengurangi rembesan 2–4 orde dibandingkan pelapis tanah tunggal. Namun, kinerjanya tetap sangat dipengaruhi jumlah cacat dan mutu pemasangan.

    Gbr. 4.3 — Subgrade → lempung 2×30 cm → HDPE 1,5 mm → geotekstil → drainase 30 cm + pipa; hl ≤0,30 m, dasar 1–2% ke pipa. Kotak kecil: minimum Indonesia vs komposit internasional.

    Antarmuka dapat menjadi bidang lemah. Kegagalan pada TPA Kettleman Hills pada 1988 menunjukkan risiko antarmuka HDPE halus dan geotekstil tak-anyam. Karena itu, gunakan HDPE bertekstur bila diperlukan, lakukan uji geser antarmuka, dan terapkan pengendalian mutu konstruksi pada sambungan las serta pemadatan setiap lapisan.

    4.4 · Drainase

    Memisahkan air bersih dari lindi — sejak tetes pertama

    Air hujan yang menyentuh sampah berpotensi menjadi lindi, sedangkan air yang tidak berkontak dengan sampah dapat dialirkan sebagai air bersih. Pemisahan keduanya menentukan beban instalasi pengolahan lindi.

    Di luar tapak, saluran pengelak mencegat limpasan sebelum memasuki area TPA. Pada zona yang telah ditutup, penutup akhir dan vegetasi mengarahkan air hujan ke saluran permukaan sebagai air bersih. Pada zona aktif, air hujan tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari sampah sehingga menjadi lindi. Luas zona aktif perlu diperkecil melalui pembukaan sel minimum, penutupan harian, dan pembentukan kemiringan permukaan yang cepat mengalirkan air.

    Debit rencana — metode rasional

    D = 0,278·C·I·A (A km²)
    Qp = 0,00278·C·I·A (A ha)

    Keterangan: Qp adalah debit rencana (m³/detik); C adalah koefisien pengaliran yang dihitung sebagai rata-rata tertimbang luas; I adalah intensitas hujan (mm/jam); dan A adalah luas daerah tangkapan. Perhatikan satuannya: konstanta untuk km² berbeda 100 kali dari konstanta untuk ha.

    I = R24/24·(24/tc)^(2/3)

    Keterangan: I adalah intensitas hujan (mm/jam); R24 adalah hujan harian maksimum untuk periode ulang terpilih (mm); dan tc adalah waktu konsentrasi (jam). Periode ulang lima tahun dapat digunakan untuk tapak, sedangkan saluran pengelak luar umumnya memerlukan periode ulang yang lebih panjang.

    Tabel 4.4 — C untuk permukaan TPA

    PermukaanC
    Zona aktif terbuka0,70–0,90
    Penutup antara tanpa vegetasi0,50–0,70
    Penutup akhir bervegetasi0,25–0,40
    Penyangga berhutan0,10–0,25
    Jalan perkerasan0,70–0,90

    Dimensi saluran — Manning

    Q = 1/n·As·R^(2/3)·S^(1/2)

    Keterangan: Q = kapasitas (m³/detik); n = kekasaran Manning (0,013–0,017 beton; 0,022–0,030 tanah); As = luas basah (m²); R=As/P = jari-jari hidraulik (m); S = kemiringan dasar. Kecepatan 0,6–3 m/detik.

    Gbr. 4.4 — Tiga jaringan: pengelak luar (cegat), keliling bersih (tertutup+penyangga+jalan → sedimen → badan air), lindi terpisah (aktif → kolam lindi → IPL). Jangan campur.

    Asumsi desain (Lampiran III): ±30% hujan yang masuk menjadi lindi — ditampilkan sebagai asumsi untuk debit bulanan maksimum. Resirkulasi lindi ke timbunan sangat dianjurkan untuk mempercepat stabilisasi (Lampiran IV), dengan tetap memenuhi baku mutu efluen; bila belum memenuhi, lakukan resirkulasi (Pasal 49 ayat 6–7).

    Pemisahan air bersih merupakan salah satu pengendali biaya pengolahan lindi yang paling efektif. Setiap tambahan luas zona aktif akan meningkatkan debit ke instalasi pengolahan lindi. Karena itu, konfigurasi sel dan drainase sementara perlu dirancang secara terpadu sejak awal.

    4.5 · Struktur

    Memahami penurunan dan stabilitas timbunan

    Timbunan sampah dapat mengalami penurunan dan kehilangan stabilitas. Kuat gesernya berubah akibat regangan, tegangan, dan kondisi kejenuhan.

    Tabel 4.5 — Berat isi & kuat geser sampah kota

    SumberParameterNilai
    Zekkos 2006γ3–20 kN/m³ (naik kedalaman)
    Bray 2009c=15 kPa; φ=36°1 atm; φ turun 5°/log σ
    Eid 2000c'=0–50 kPa; φ'≈35°Balik & lab
    Grisolia 1995c=5kPa φ=10° (10%) →30kPa 20° (25%)Tergantung regangan

    Parameter sampah setempat perlu diuji. Komposisi sampah dengan fraksi organik basah yang tinggi dapat berbeda dari data pada tabel, sehingga nilai rujukan tidak boleh digunakan tanpa verifikasi.

    Penurunan — Sowers

    ΔHp = C'c·H·log((σ0+Δσ)/σ0)

    Keterangan: ΔHp = penurunan primer (m); C'c = indeks kompresi primer termodifikasi; H = tebal lapisan (m); σ0 = tegangan awal; Δσ = tambahan tegangan (kPa).

    ΔHs = C'α·H·log(t2/t1)

    Keterangan: ΔHs adalah penurunan sekunder akibat rayapan dan proses biologis; C'α adalah indeks kompresi sekunder; sedangkan t1 dan t2 adalah waktu tinjau. Literatur melaporkan penurunan total sekitar 25–50% dari tinggi awal, sementara Permen PU menggunakan asumsi minimum 20%. Oleh sebab itu, kemiringan penutup perlu direncanakan lebih besar dari kemiringan akhir yang ditargetkan.

    Mekanisme kegagalan dan faktor keamanan

    Kegagalan lereng dapat terjadi melalui massa sampah, sepanjang antarmuka pelapis, melalui translasi pada tanah dasar yang lunak, atau akibat tekanan air pori dan gas. Kondisi terakhir perlu dikendalikan dengan baik karena dapat menurunkan kuat geser secara cepat.

    FS = [c' + (γz cos²β − u) tanφ'] / (γz sinβ cosβ) — Lamp. III/IV, BAB4.md:153

    Keterangan: FS adalah faktor keamanan lereng tak hingga; c' adalah kohesi efektif (kPa); γ adalah berat isi (kN/m³); z adalah kedalaman bidang longsor yang tegak lurus terhadap permukaan (m); β adalah sudut lereng (°); u adalah tekanan air pori pada bidang longsor (kPa); dan φ' adalah sudut geser efektif (°). Untuk kondisi statik, SNI 8460:2017 menggunakan faktor keamanan minimal 1,5. Nilai pada kondisi sementara dan gempa masing-masing minimal 1,3 dan 1,1.

    Parameter c', φ', dan γ perlu diperoleh melalui pengujian lapangan atau laboratorium pada sampah setempat. Pemantauan penurunan dan stabilitas dilakukan secara berkala selama masa pascatutup sesuai ketentuan yang berlaku.

    Gbr. 4.5 — Bidang gelincir sejajar; air pori mengurangi tegangan efektif; FK jatuh di bawah 1,5 pada lereng curam jenuh.

    4.6 · Prasarana

    Empat kelompok fasilitas — jalan, timbang, penyangga

    Lampiran Permen PU Pasal 37: dasar, perlindungan lingkungan, operasional, penunjang — semua harus ada di denah.

    Empat kelompok (Permen PU Pasal 37)

    Dasar — jalan masuk/operasi, listrik/genset, drainase, air bersih, pagar, kantor.

    Perlindungan lingkungan — liner, pengumpul lindi, IPL, zona penyangga, sumur pantau, gas.

    Operasional — alat berat, truk tanah, tanah penutup.

    Penunjang — bengkel, garasi, cuci alat, P3K, jembatan timbang, lab, parkir.

    Jalan & jembatan timbang

    Jalan masuk perlu melayani lalu lintas dua arah, dengan lebar minimal 8 m dan kemiringan 2–3% menuju drainase. Jalan operasi dapat berupa jalan sementara yang akan ditimbun, jalan keliling permanen dari beton atau aspal, serta jalan penghubung. Jembatan timbang ditempatkan dekat pos jaga agar pencatatan sampah masuk mudah diawasi. Kapasitas, lebar, jumlah unit, dan jadwal kalibrasinya disesuaikan dengan arus kendaraan serta ketentuan yang berlaku.

    Zona penyangga

    Zona penyangga berupa jalur hijau di sekeliling TPA berfungsi meredam bau, kebisingan, dan gangguan visual. Vegetasi sebaiknya berupa perdu dan pohon berkayu, bukan tanaman pangan. Sumur pantau ditempatkan dengan mempertimbangkan arah aliran air tanah, setidaknya pada sisi hulu dan hilir tapak.

    Gbr. 4.6 — Jalan masuk 8 m → gerbang/timbang → kantor → zona aktif terjauh/terendah dekat kolam lindi → keliling & penyangga.

    Kalkulator 4.1

    Sel harian — cari tebal yang paling hemat tanah

    Ubah Wd, ρc, L, m. Lihat hopt menyamakan atap & lereng — tebal jauh dari optimum boros 20%+.

    Contoh 4.1

    Kalkulator sel harian

    Vd=Wd/ρc · M=Vd/Lh · Ac=LM+Lh√(1+m²) · hopt=√[Vd/L√(1+m²)]

    rc = Vtanah/Vd
    Vd harian0m³/hari
    Panjang L0m
    hopt0m
    Maju M0m/hari
    Luas Ac0m²
    rc harian0
    h (m)M (m)Atap (m²)Lereng (m²)Ac (m²)Tanah 15cm (m³)rc

    Pada hopt atap = lereng. Tebal jauh dari optimum (mis. 3,0 m) boros 21% vs 1,5 m — kurva landai di 1,0–2,0 m sehingga operasi fleksibel.

    Kalkulator 4.2

    Rembesan — mengapa komposit wajib

    Bandingkan kinerja pelapis minimum dengan pelapis komposit. Kalkulator menunjukkan bagaimana pilihan pelapis memengaruhi volume rembesan pada tapak seluas 4,7 ha.

    Contoh 4.2

    Kalkulator rembesan Darcy

    q=k·(hl+D)/D · Q=q·A·t · 1 ha = 10.000 m²

    hl ≤0,30 m

    Jika drainase tersumbat, tinggi genangan lindi dapat meningkat dari 0,30 m menjadi 3,00 m. Kenaikan ini memperbesar gradien hidraulik dan rembesan. Karena itu, sistem drainase harus dipelihara secara rutin.

    Pilihan A (10⁻⁶)0m³/ha·th
    Pilihan B (10⁻⁷)0m³/ha·th
    Pilihan C (komposit)0m³/ha·th
    Untuk tapak0m³/th
    i A / i B0
    Nisbah C vs A0
    Pilihanq (m/detik)m³/ha·thUntuk tapakmm/th

    B→A 10× (permeabilitas). C→B 100–10.000× (geomembran). Mutu pemasangan menentukan — 1–5 cacat/ha dengan CQA ketat.

    Kalkulator 4.3

    Menghitung debit rencana dan dimensi saluran

    Hitung koefisien limpasan gabungan dan intensitas hujan, lalu gunakan metode rasional serta persamaan Manning. Periksa satuan ha dan km² sebelum menafsirkan hasil.

    Contoh 4.3

    Kalkulator rasional–Manning

    Qp=0,00278CIA(ha) =0,278CIA(km²) · I=R24/24·(24/tc)^2/3 · Q=1/n·As·R^2/3·S^1/2

    C gab = ΣCiAi/ΣAi
    C gabungan0
    I Mononobe0mm/jam
    Qp0m³/detik
    Cek km²0m³/detik
    Kapasitas Q0m³/detik
    Kecepatan v0m/detik
    —
    KomponenA (ha)CC·A

    Periksa agar kecepatan aliran berada pada rentang 0,6–3 m/detik. Jika kapasitas saluran lebih kecil dari debit rencana, saluran perlu diperlebar, diperdalam, atau diberi kemiringan lebih besar. Gunakan kondisi awal operasi sebagai kondisi desain karena koefisien limpasan masih tinggi.

    Kalkulator 4.4

    Penurunan & stabilitas — apakah lereng akan berdiri?

    Kemiringan awal perlu mempertimbangkan penurunan timbunan. Kalkulator ini juga menunjukkan bahwa kejenuhan dapat menurunkan faktor keamanan lereng secara tajam.

    Contoh 4.4

    Kalkulator penurunan & FK lereng tak hingga

    Δ = p%·H · i=H+Δ → FK kering vs jenuh

    FK kering 30°0
    FK jenuh 45°0
    Turun tengah0m
    Turun tepi0m
    Selisih0m
    Butuh awal0%
    FK 1:3 kering0
    FK 45° kering0
    —
    KasusβKondisiFK≥1,5?

    Stabilitas lereng dikendalikan bersama melalui pembatasan sudut lereng hingga 30°, pengendalian tinggi genangan lindi dengan drainase, dan pengendalian gas. Ketiganya perlu diterapkan secara terpadu untuk mengurangi risiko kegagalan lereng.

    Rangkuman

    Hal penting yang perlu diingat

    • Pilih metode penimbunan berdasarkan kondisi tapak. Metode area sesuai untuk muka air tanah dangkal, metode parit untuk muka air tanah dalam dan tanah yang cukup tebal, sedangkan metode cekungan memerlukan saluran pengelak yang memadai.
    • Dimensi sel harian menentukan kebutuhan tanah penutup. Tebal optimum dicapai ketika luas permukaan atas dan luas lereng depan seimbang.
    • Rancang lereng kerja, lereng akhir, teras, dan kemiringan dasar sebagai satu kesatuan yang aman serta mendukung pengaliran lindi.
    • Gunakan sistem pelapis berlapis. Pelapis komposit memberi perlindungan lebih tinggi daripada pelapis tunggal, tetapi mutu pemasangan tetap menentukan kinerjanya.
    • Pisahkan air bersih dari lindi sejak perencanaan sel dan drainase. Selalu periksa kesesuaian satuan luas saat menggunakan metode rasional.
    • Perhitungkan penurunan timbunan saat merancang kemiringan penutup akhir dan evaluasi stabilitas lereng dengan parameter sampah setempat.
    • Lengkapi denah TPA dengan prasarana dasar, perlindungan lingkungan, fasilitas operasional, dan fasilitas penunjang agar TPA dapat dioperasikan secara aman.

    Checkpoint

    Uji pemahamanmu

    Enam soal: metode, hopt, permeabilitas, Darcy, rasional, FK.

    Diskusi

    Pertanyaan diskusi

    Buka petunjuk untuk mulai pembahasan.

    Latihan

    Latihan mandiri

    Tandai tugas yang selesai; progres tersimpan di perangkat ini.

    0 / 5 selesai

      Referensi

      Daftar pustaka